Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013

Olah Raga Muslimah

Secara umum tidak ada keterangan ilmiah yang membatasi wanita dalam berolah raga.

Islam juga tidak melarang , bahkan menganjurkan wanita-wanita muslimah untuk berolah raga. Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajak Aisyah radhiyallahu ‘anha berlomba lari, sebagaimana Aisyah radhiyallahu ‘anhapernah berkata :

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajakku lomba lari dan aku mengalahkannya. Kemudian aku berdiam diri sampai aku menjadi gemuk. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallammengajakku lomba lari dan beliau mengalahkanku. Beliau bersabda : ‘Ini sebagai balasan dari lomba yang lalu.’”

Kita bisa melakukan olah raga apa saja (1). Secara umum tidak ada pembedaan ini olah raga maskulin (sehingga hanya cocok untuk pria)  dan ini olah raga feminin (sehingga hanya cocok untuk wanita). Karena tujuan olah raga bermuara pada satu tujuan yaitu mencapai kondisi tubuh yang fit. Tidak terkotak-kotak berdasarkan jenis kelamin karena masing-masing olahraga memiliki karakteristik. Sebagai contoh, renang sangat baik untuk melatih kekuatan paru-paru, sehingga penderita asma-baik pria atau wanita- dianjurkan rutin olah raga renang.

Ketika muncul pertanyaan “Apa sih olahraga yang cocok buat muslimah?”, maka jwabannya bisa bervariasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Namun, ada panduan penting dalam memilih yaitu:

    Niatkan sebagai sarana memperbaiki kualitas ibadah kita kepada Allah ta’ala. Baik itu ibadah dalam artian khusus (misal, shalat, dll) atau ibadah dalam artian umum (misal, suami mencari nafkah, istri mengurus rumah, dll)
    Sesuaikan dengan kondisi fisik saat itu. Jika kita pemula atau baru sembuh dari sakit, pilih olah raga yang ringan, sepertistretching (peregangan), jalan sehat, dll. Kemudian setelah tubuh sudah beradaptasi dengan kebiasaan ini, naikkan frekuensi, variasi, ataupun tingkat berat-ringannya secara bertahap.
    Tentukan target yang spesifik..
    Contoh target kurang spesifik: “Tubuh saya jadi lebih segar”
    Contoh target spesifik:“Satu bulan ke depan saya harus kuat jalan kaki 1 km dalam 3 menit”
    Sesuaikan dengan minat. Kalau tidak suka olah raga air, renang bisa diganti dengan senam pernafasan untuk melatih kekuatan paru-paru. Tenis bisa diganti bulu tangkis, dll.

Apapun pilihan olah raga kita, pastikan ketika menjalani olahraga itu dengan niat lurus, aurat dan kehormatan kita sebagai muslimah tetap terjaga dan terpelihara.

***

(1)  Pilah baik-baik antara olah raga yang memberi efek positif bagi vitalitas tubuh dan olah raga secara penamaan saja. Misal, jogging termasuk olahraga yang positif, adapun tinju (saya kira) lebih dominan kekerasannya dari pada olah raga, meskipun umum tinju dikategorikan sebagai olah raga.

artikel muslimah.or.id

Penulis: Ummu Hatim Luniet Anggrieta, S. Ked
Baca Selanjutnya ..

Kamis, 07 Maret 2013

Qawaid Hisab (2)

Dilipatgandakannya balasan kebaikan bukan keburukan

Rahmat Allah mendahului murkaNya dan salah satu bentuk rahmatnya adalah bahwa Dia melipatgandakan pahala kebaikan, minimal sepuluh kali lipat, bukan balasan keburukan.

Firman Allah,

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ [الأنعام/160]

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).”(Al-An’am: 160).

Al-Hakim dan Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar berkata, yang benar dan dibenarkan menyampaikan kepadaku dalam apa yang dia riwayatkan dari Rabbnya Tabaraka wa Ta’ala, “Kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya atau Aku menambah, keburukan dibalas satu atau Aku mengampuninya.” (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 128).

Balasan kebaikan bisa dilipatgandakan lebih dari itu sampai tujuh ratus, sampai jumlah yang hanya diketahui oleh Allah, sebagaimana janjiNya dalam infak di jalanNya, Dia berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [البقرة/261]

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261).

Di antara bentuk rahmat Allah adalah bahwa barangsiapa berkeinginan melakukan kebaikan dan dia tidak melakukannya maka ditulis untuknya kebaikan sempurna, sebaliknya barangsiapa berkeinginan melakukan keburukan lalu tidak melakukannya, maka ditulis untuknya kebaikan sempurna, dan jika dia melakukannya maka ditulis satu keburukan.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallohu 'alaihi wasallam seperti yang dia riwayatkan dari Rabbnya berfirman, “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskan hal itu, barangsiapa menginginkan kebaikan lalu tidak melakukannya maka Allah menulis untuknya satu kebaikan sempurna di sisiNya, jika dia menginginkannya lalu melakukannya maka Allah menulisnya di sisiNya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipatnya sampai kelipatan yang banyak, barangsiapa menginginkan keburukan lalu dia tidak melakukannya maka Allah menulis di sisiNya kebaikan sempurna, jika dia menginginkannya lalu melakukannya maka Allah menulis atasnya satu keburukan.”

Di antara bentuk rahmat Allah adalah bahwa Dia mengganti keburukan dengan kebaikan, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar berkata, Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui penduduk surga yang paling akhir masuk surga dan penghuni neraka yang paling akhir keluar darinya, seorang laki-laki dihadirkan pada Hari Kiamat, maka dikatakan, ‘Sodorkan dosa-dosa kecilnya kepadanya’, maka dikatakan, ‘Pada hari ini kamu melakukan ini dan ini, kamu melakukan ini dan ini’. Dia menjawab, ‘Ya’ dia tidak bisa mungkir, dia takut kalau dosa-dosa besarnya disodorkan kepadanya, maka dikatakan kepadanya,’Untukmu kebaikan menggantikan keburukan.”

Tabdil sayyiat hasanat.

Keburukan diganti oleh Allah dengan kebaikan, ini termasuk kemurahan Allah. Allah berfirman,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا [الفرقان/70]

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, Allah mengganti keburukan mereka dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Al-Furqan: 70.

Rasulullah bersabda, “Seorang laki-laki dihadapkan di hari Kiamat, Allah berfirman, ‘Beberlah dosa-dosa kecilnya kepadanya.’ Lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Kamu melakukan ini dan ini di hari ini dan ini.’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Dia tidak sanggup mengingkari, dia khawatir dosa-dosa besarnya diperlihatkan kepadanya. Maka Allah berfirman, ‘Setiap keburukanmu diganti dengan kebaikan.’ Dia berkata, ‘Ya Rabbi, aku melakukan perkara-perkara yang aku tidak melihatnya di sini.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Ditegakkannya para saksi atas orang-orang kafir

Saksi terbesar atas manusia pada hari itu adalah Allah yang tidak samar bagiNya sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi, firman Allah,

وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ [يونس/61]

“Dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” (Yunus: 61).

Saksi pertama atas setiap umat adalah rasulNya, setiap rasul bersaksi atas umatnya bahwa dia telah menyampaikan dan jika umatnya mendustakan maka para rasul bersaksi atas mereka bahwa mereka mendustakan.

Firman Allah,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا [النساء/41]

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (An-Nisa: 41).

Firman Allah,

يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ [المائدة/109]

“(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para Rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?’ Para rasul menjawab, ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib." (Al-Maidah 109).

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri berkata Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, “Pada Hari Kiamat Nuh dihadirkan, dia menjawab, ‘Aku penuhi panggilanMu ya Rabbi dan demi kabahagiaanMu’. Allah bertanya, ‘Apakah kamu telah menyampaikan?’ Nuh menjawab, ‘Ya.’ Maka umatnya ditanya, ‘Apakah dia telah menyampaikan?’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak didatangi seorang pemberi peringatan.’ Allah bertanya kepada Nuh, ‘Siapa saksimu?’ Dia menjawab, ‘Muhammad dan umatnya.’ Maka mereka bersaksi bahwa dia telah menyampaikan, dan rasul sebagai saksi atas kalian, itulah firman Allah,
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا [البقرة/143]
‘Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”(Al-Baqarah: 143).

Di antara saksi atas manusia adalah bumi, malam dan siang, ia bersaksi dengan apa yang dilakukan di atasnya dan padanya, Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam membaca firman Allah,

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا [الزلزلة/4]

“Pada hari itu bumi menceritakan berita-beritanya.”(Al-Zalzalah: 4), beliau bertanya, “Apakah kalian tahu apa itu berita-beritanya?” Mereka menjawab, “Allah dan rasulNya lebih tahu.” Nabi shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, “Ia bersaksi atas setiap hamba laki-laki dan wanita dengan apa yang dilakukan di atasnya, ia berkata, ‘Pada hari ini dia melakukan ini dan ini.’ Inilah beritanya.” At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih gharib.”

Dari al-Qiyamah al-Kubra, Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar dan Rihlah ila ad-Dar al-Akhirah, Syaikh Mahmud al-Mishri.

source :http://www.alsofwah.or.id

Baca Selanjutnya ..

Jumat, 08 Februari 2013

Hadiah, Gratifikasi dan Suap

UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi masih membuka peluang besar bagi timbulnya suap. SyariatIslam telah menetapkan aturan yang menutup rapat semua celah terjadinya suap. Pejabat yang disuap dan yang menyuap sama-sama dilaknat.

 Hubungan harmonis dalam masyarakat adalah sumber kejayaan umat. Sebaliknya, perpecahan adalah awal kehancuran umat. Allah berfirman, yang artinya, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Syariat mengajarkan berbagai kiat merajut persatuan. Kiat menyuburkan kasih sayang antara dua insan adalah saling memberi hadiah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Hendaknya kalian saling memberi hadiah, karena hadiah dapat menghilangkan kebencian yang ada dalam dada. Janganlah seorang wanita meremehkan arti suatu hadiah yang ia berikan kepada tetangganya, walau hanya berupa kikil (kaki) kambing.” (HR. At-Turmudzi). Dengan jelas hadis ini menggambarkan fungsi hadiah dalam syariat Islam. Anjuran saling memberi hadiah bertujuan mempererat hubungan kasih sayang dan mengikis segala bentuk jurang pemisah antara pemberi dan penerima hadiah.

Hadiah bagi Pejabat

Mencermati dalil tersebut, juga lainnya, dapat disimpulkan, konsep memberi hadiah dalam syariat Islam benar-benar berlatar belakang sosial, tanpa embel-embel komersial. Makna inilah yang secara tegas dinyatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya tentang fungsi hadiah yang benar-benar hadiah, “Hendaknya kalian saling bertukar hadiah agar kalian saling mencintai.” (Bukhari dalam kitab Adab Mufrad)

Penjelasan tersebut mendorong kita untuk mengoreksi berbagai hadiah, yang kita berikan dan hadiah yang kita terima. Rasa sungkan, keinginan membangun relasi bisnis, dan pengaruh pamprih lain, lebih melandasi seseorang memberi hadiah. Mungkin inilah mengapa hadiah tidak pernah singgah ke rumah orang tak berpangkat dan miskin, walaupun dia patuh beragama. Sebaliknya, berbagai jenis hadiah membanjir ke orang berpangkat atau kaya walau buruk agamanya.

Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melimpahkan tugas ke seorang lelaki untuk memungut sedekah. Tapi utusan itu ternyata menerima hadiah dari penyetor zakat. Seusai melakukan tugasnya, lelaki tersebut berkata, Wahai Rasulullah, harta ini adalah hasil kerjaku dan aku serahkan kepadamu. Sedangkan harta ini adalah hadiah yang aku dapatkan.

Menanggapi sikap utusan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Mengapa engkau tidak duduk-duduk saja di rumah ayah dan ibumu, lalu lihatlah adakah engkau mendapatkan hadiah atau tidak?” Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dan berkhutbah, Amma ba’du:Mengapa seorang utusan yang aku beri tugas lalu ketika pulang ia berkata, ‘Ini hasil tugasku sedangkan ini adalah hadiah milikku?’ Tidakkah ia duduk saja di rumah ayah dan ibunya, lalu dia lihat adakah ia mendapatkan hadiah atau tidak. Sungguh demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, tidaklah ada seorang dari kalian yang mengambil sesuatu tanpa haknya (korupsi), melainkan kelak pada hari kiamat ia akan memikul harta korupsinya. Bila dia mengambil seekor unta, maka dia membawauntanya dalam keadaan bersuara. Bila ia mengambil sapi, maka ia membawa sapinya itu yang terus melenguh (bersuara). Dan bila yang dia ambil adalah seekor kambing, maka dia membawa kambingnya itu yang terus mengembik. Sungguh aku telah menyampaikan peringatan ini.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam hadis tersebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan standar yang jelas dalam hal hadiah. Hadiah yang diterima karena peran atau jabatan yang seseorang pangku hakekatnya gratifikasi, dan tentu hukumnya haram. Dalam hadis itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara hadiah yang datang sebelum menjalankan tugas dan hadiah yang datang setelah menjalankan tugas. Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Tidakkah engkau duduk-duduk saja di rumah ayah dan ibumu, lalu lihatlah adakah engkau mendapatkan hadiah atau tidak?” Dalam hadis lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan ketentuan ini melalui sabdanya, “Hadiah para pejabat adalah korupsi.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Hadis tersebut selain menekankan pemahaman mengenai ketentuan hadiah, juga menjelaskan segala bentuk hadiah, baik berupa barang, uang, atau lainnya, statusnya sebagai suap. Sebagaimana hadiah bagi pejabat dianggap gratifikasi, walaupun pejabat itu menjalankan tugasnya secara profesional dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Ketentuan gratifikasi secara syariat tentu lebih luas daripada ketentuan dalam Pasal 5 Undang-undang No. 20/2001 tentang Perubahan atas UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam UU tersebut, hadiah hanya dianggap gratifikasi bila dengan maksud pegawai terkait melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya. Atau hadiah tersebut diberikan terkait dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban. Baik kewajiban itu dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

Bila Anda renungkan, Anda pasti merasakan bahwa syariat Islam dalam urusan gratifikasi lebih tegas dan lebih jelas. Dengan pemahaman gratifikasi secara syariah, segala celah praktek gratifikasi dapat dicegah dan ditanggulangi. Sedangkan UU No. 20/2001 masih menyisakan celah sangat lebar bagi pemberian gartifikasi. Dalam UU tersebut, suatu hadiah dianggap gratifikasi bila dengan maksud buruk, yaitu agar penerimanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan kewajibannya.

Anda pasti menyadari bahwa niat dan tujuan adalah sesuatu yang tidak kasat mata, karena tersimpan dalam hati, sehingga sulit dibuktikan. Sebagaimana batasan “bertentangan dengan kewajiban”  juga rentan membuka celah gratifikasi, mengingat hal itu berbeda-beda, selaras dengan perbedaan pemahaman masing-masing pejabat.

Hak Pejabat

Tentu Anda merasa berutang budi ketka mendapatkan layanan dari seorang pejabat. Baik layanan berkaitan dengan proyek Anda atau urusan pribadi lainnya. Dan biasanya Anda ingin mengungkapkan rasa terima kasih Anda kepada pejabat tersebut dengan memberinya hadiah. Sebagaimana pejabat terkait sering kali juga merasa telah berjasa kepada Anda yang telah mendapatkan layanannya, kerenanya ia merasa berhak untuk mendapatkan balas budi atas jasanya.

Apa yang Anda rasakan dan yang dirasakan oleh pejabat, walaupun itu suara batin banyak orang atau setiap orang, namun sejatinya tidak pada tempatnya. Betapa tidak. Pejabat telah mendapatkan imbalan atas pekerjaannya, berupa gaji yang diberikan oleh instansi atau perusahaan tempat dia bekerja. Dengan demikian, sejatinya ia tidak berhak mengambil imbalan selain yang telah ia sepakati dengan instansi atau perusahaan tempat dia bekerja.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjelaskan fakta tersebut dalam sabdanya, “Barang siapa yang kami limpahi tugas atas suatu pekerjaaan, hendaknya ia menyerahkan semua yang ia peroleh, sedikit ataupun banyak. Selanjutnya imbalan apa pun yang (kami) berikan kepadanya atas pekerjannya itu, silahkan ia ambil. Sedangkan segala yang ia dilarang darinya hendaknya ia tidak mengambilnya.” (HR. Muslim)

Adanya hadiah yang diberikan kepada pejabat sebagai wujud terima kasih atas layanannya dapat dipastikan menjadi biang hilangnya amanah dan keadilan, sebagaimana yang kita rasakan di negeri kita. Karena itu guna menegakkan keadilan di tengah masyarakat, Islam mengharamkan segala bentuk hadiah yang diberikan kepada pejabat.

Dosa Penyuap

Sebagai rakyat atau orang yang tidak memangku jabatan, mungkin Anda berkata, dosa suap hanyalah dipikul pejabat yang menerimanya, sedangkan pemberi suap dapat melanggang kangkung karena bebas dari jerat dosa suap.

Saudaraku, persangkaan Anda tidak benar. Sebagai bukti, simaklah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berikut: “Semoga laknat Allah menimpa penyuap dan penerima suap.” (HR. Ibnu Majah). Karena itu, Anda sebagai penyuap dan yang disuap, sama. Anda juga dilaknat.

Semoga paparan ini dapat menuntun Anda untuk membedakan antara hadiah yang benar-benar bernilai hadiah dari hadiah yang berfungsi sebagai suap. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi kita semua dari berbagai praktek menyeleweng dari syariat-Nya. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab. (PM)


Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.

(Rubrik Fikih Muamalah Edisi 27/Mei 2012)


source : pengusahamuslim.com

Baca Selanjutnya ..

Qawaid Hisab (1)

Allah menetapkan balasan bagi amal perbuatan para hamba sebagai tuntutan dari hikmahNya, dan Allah tidak membalas amalan para hamba kecuali sesudah menghisabnya secara cermat dan cepat sebagai konsekuensi keadilanNya. Seandainya Allah mengazab seluruh makhlukNya niscaya Dia tidak berbuat zhalim, karena mereka adalah maklukNya dan pencipta makhluk berhak bertindak terhadap makhluknya sesuai dengan kehendakNya. Akan tetapi Allah tidak melakukan itu, Dia tetap menghisab hamba-hambaNya dengan adil, keadilan sempurna yang tidak pernah disaksikan oleh seluruh manusia.

Allah telah menjelaskan di dalam banyak ayat dari kitabNya tentang dasar-dasar hisabNya atas para hamba, di antaranya:

Keadilan sempurna

Pada Hari Kiamat Allah Ta’ala memberikan balasan amal perbuatan manusia secara sempurna, tanpa ada pengurangan dan penyunatan, tidak ada jiwa yang dizhalimi walaupun seberat semut hitam atau sekulit ari.

Firman Allah,

ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ [البقرة/281]

“Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-Baqarah: 281).

Firman Allah melalui wasiat Luqman kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ [لقمان/16]

"Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (Luqman: 16).

Dan masih banyak ayat al-Qur`an yang menetapkan bahwa Allah tidak menzhalimi manusia, masing-masing diberi balasan sesuai dengan perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.

Seseorang tidak memikul dosa orang lain

Allah membalas perbuatan manusia, yang baik mendapatkan balasan baik, yang selain itu mendapatkan balasan sesuai dengannya, Allah tidak memikulkan dosa seseorang kepada orang lain.

Firman Allah,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ [الأنعام/164]

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perselisihkan." (Al-An’am: 164).

Inilah keadilan tertinggi, orang yang mendapatkan petunjuk memetik buah petunjuk dan orang yang tersesat memanen buah kesesatannya,

مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا [الإسراء/15]

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Al-Isra`: 15).

Kaidah besar ini termasuk perkara yang disepakati oleh risalah samawi, Allah berfirman,

أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى (36) وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى (37) أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (38) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (40) ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى (41) [النجم/36-42]

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (An-Najm: 36-41).

Allah Ta’ala membeber amal perbuatan di depan pelakunya

Di antara keadilan Allah adalah bahwa Dia membeber amal perbuatan manusia yang baik dan yang buruk, sehingga mereka bisa menjadi pengadil bagi diri mereka sendiri, setelah itu tidak ada alasan bagi siapa pun.

Pembeberan ini dengan diberikannya buku catatan amal manusia dan mereka membacanya, seperti kita ketahui bahwa Allah menugaskan dua malaikat yang mencatat amal perbuatan manusia, jika yang bersangkutan mati maka buku tersebut ditutup, dan pada Hari Kiamat buku tersebut diberikan kepada pemiliknya.

Firman Allah,

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا [الإسراء/13]

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya, dan Kami keluarkan baginya pada Hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.” (Al-Isra`: 13).

Buku catatan ini mencatat segalanya, besar maupun kecil, tidak membiarkan apa pun kecuali ia merekamnya,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا [الكهف/49]

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis), dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49).

Dari al-Qiyamah al-Kubra, Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar dan Rihlah ila ad-Dar al-Akhirah, Syaikh Mahmud al-Mishri.
Baca Selanjutnya ..

Rabu, 15 Agustus 2012

Inilah Jalanku


Mereka bilang kerudungku seperti nenek-nenek
padahal rambut sasak mereka seperti daun kering melambai.
Mereka bilang jilbabku ketinggalan zaman
padahal tank-top mereka seperti koteka zaman batu.

Mereka bilang ucapanku seperti orang yang ceramah
padahal rumpian mereka tak lebih indah dari dengungan segerombol lebah.
Mereka bilang cara berfikirku ”ketuaan”
padahal umur kepala dua mereka tidak menjadikannya lebih dewasa dari seorang anak kecil berumur 5 tahun.

Mereka bilang tingkah polahku tidak enerjik,
padahal laku mereka lebih menyerupai banteng seruduk sana-seruduk sini.
Mereka bilang dandananku pucat,
padahal penampilan mereka lebih mirip dengan ondel-ondel
Mereka bilang aku nggak gaul,
padahal untuk mengenal konspirasi saja mereka geleng-geleng.

Mereka bilang:
aku sok suci
aku tidak menikmati hidup
aku nggak ngalir
aku fanatik sok lebay
dan sok bau surga.

Ku jawab:
Ya, aku berusaha untuk terus mensucikan diri.
Karena najis tidak pernah mendapatkan tempat dimanapun berada,
meskipun letaknya di atas tahta emas.

Ya, aku tidak menikmati hidup ini. Karena hidup yang kudambakan bukan hidup yang seperti ini yang lebih buruk dari hidupnya binatang ternak

Ya, aku nggak ngalir. Aku adalah ikan yang akan terus bergerak, tidak terseret air yang mengalir sederas apapun alirannya. Karena aku tidak ingin jatuh ke dalam pembuangan.

Ya, aku fanatik. Karena fanatik dalam kebenaran yang sesuai fitrah adalah menyenangkan dibanding fanatik dalam kesalahan yang fatrah (kufur)

Ya, aku memang sok lebay. Karena aku adalah manusia yang lemah yang terserang makhluk kecil macam virus saja tubuhku sudah ambruk, manusia yang bodoh yang tidak mengetahui nasib hidupku satu detik setelah ini, manusia yang serba kurang dan punya batas waktu yang ketika waktu itu habis aku tidak bisa mengulurnya ataupun mempercepatnya

Ya, aku ingin mencium bau surga yang dijanjikan Tuhanku yang baunya dapat tercium dari jarak ratusan tahun cahaya. Betapa meruginya orang yang tidak bisa mencium bau surga, karena itu menandakan betapa jauhnya posisinya dari surga...

Kullu maa huwa aatin qoribun
Segala sesuatu yang pasti datang itu dekat...

Manusia dibekali Islam dan Muhammad sebagai pembawa huda dan haq
Juga, manusia juga dibekali akal oleh Tuhannya
Namun, manusia diberi kebebasan memilih untuk hidupnya
Dan, there is only one choice

Untuk itulah aku memilih jalanku
Memilih jalan hidupku
Hidup yang aku dambakan
Mendamba apa yang telah dijanjikanNya
Janji yang tak akan pernah diingkari

Whatever... what they said

“Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Qs. Al-An’am 116).

"Allah tidak akan mengingkari janji-janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Qs. Ar-Rum 6).

Sumber :
[Azka Al-Faruq/azka_faruqi@yahoo.com]
Baca Selanjutnya ..

Keutamaan Susu


A. MENCAMPUR SUSU DENGAN AIR

1. Dari Anas  radhiyallahu'anhu, dia berkata :

"Rasululloh Shalallohu'alaihi Wassalam dihidangkan susu yang sudah dicampur dengan air sumur; di sebelah kanan beliau orang Arab badui sementara di sebelah kiri beliau Abu Bakar ash-Shiddiq,. Kemudian beliau pun meminumnya, lalu memberikannya kepada orang Arab badui yang ada di sebelah kanannya seraya bersabda :"Mulailah dari sebelah kanan terlebih dahulu." [1]

2. Dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu'anhu, dia berkata :
"Nabi Shalallohu'alaihi Wassalam bersama seorang shahabatnya (Abu Bakar) bertamu di salah satu rumah kaum Anshar. Kemudian beliau berkata kepada orang Anshar tersebut : "Apabila kalian mempunyai air yang diembunlkan dalam kendi semalam, maka tuangkanlah ke dalam bejana untuk kami. Jika tidak, maka kami akan meminum langsung." Jabir meneruskan : " Orang Anshar itu berkata  : " Wahai Rasululloh, aku mempunyai air yang diembunkan, karena itu bergegaslah ke kemah, tempat air itu berada." Jabir melanjutkan lagi : " beliau pun bergegas menuju kemah bersama Abu Bakar dan orang Anshar tersebut, lalu air itu dihidangkan dan dicampur dengan air susu kambing." Jabir masih melanjutkan : " Rasululloh Shalallohu'alaihi Wassalam dan Abu Bakar pun lantas meminumnya."

Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari [2]. Dia sendiri memberikan judul bab (pembahasan) untuk kedua hadits tersebut, yaitu Bab "Syurbul Laban bil Maa' (Minum Susu Dicampur Dengan Air).

Al Hafizh menjelaskan : "Mereka mencampur susu dengan air, karena suhu susu yang baru diperah panas, sedangkan negeri itu, yakni Hijaz, adalah daerah yang panas; maka dari itu mereka mencampur susu dengan air dingin."[3]

3. Hadits panjang tentang hijrah, yang dikenal dengan hadits rihal (perjalanan), yakni yang diriwayatkan oleh Muslim[4]
Abu Bakar radhiyallahu'anhu berkata :
" Kemudian, aku menemui Nabi Shalallohu'alaihi Wassalam, namun aku tidak ingin membangunkan beliau yang sedang tidur, aku pun menunggu sampai beliau bangun. Ketika bangun, langsung aku sodorkan susu yang sudah dicampur dengan air hingga mendingin, lalu aku berkata : "Wahai Rasululloh, minumlah susu ini." Abu Bakar melanjutkan : "Beliau pun meminumnya sampai aku merasa puas." dan seterusnya.

Imam Ibnu Hubairah berkata ; "Hadits ini juga memberikan petunjuk agar seseorang menghilangkan rasa haus pada cuaca yang panas dengan minum susu yang dicampur dengan air dingin." sampai pada perkataannya :"dan ini menunjukkan bahwa Abu Bakar memberikan susu yang sudah didinginkan dengan air agar Rasululoh Shalallohu'alaihi Wassalam menikmatinya-karena dinginnya-bukan dimaksudkan sebagian dari (wujud) kemewahan, sebagaimana anggapan orang-orang jahil, melainkan hal itu sebagai bentuk ibadah."[5]

B.DO'A SETELAH MINUM SUSU
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhu, dia berkata :
Rasululloh Shalallohu'alaihi Wassalam aku dan Khalid, bertamu ke rumah Maimunah; lalu dia menghidangkan kepada kami bejana berisi susu. Beliau pun meminumnya. Saat itu aku berada di sebelah kanan beliau, sedangkan Khalid berada di sebelah kiri. Beliau berkata kepadaku : "Sekarang giliranmu, namun jika kamu lebih mengutamakan Khalid, aku akan memberikan ini kepadanya." Aku berkata : " Aku tidak akan mengutamakan seorang pun untuk minum dari bejana bekas engkau." kemudian, beliau bersabda : "Siapa saja yang Alloh berikan makanan kepadanya, hendaklah ia berucap : Allohumma baa rik lanaa fiihi wa atho'imnaa khoyraan minhu ( Ya Alloh, berkahilah makanan kami dan karuniakanlah kepada kami makanan yang lebih baik (makanan Surga)." Dan siapa saja yang Alloh karuniakan susu hendaklah berucap : Allohumma baa rik lanaa fiihi wazidnaa minhu (Ya Alloh, berkahilah susu ini dan karuniakan kepada kami yang lebih banyak)." lalu beliau bersabda : " Tidak ada yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu."

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Dawud as-Sijistani, Abu Dawud ath-Thayalisi dan an-Nasai.[6]
Tentang hadits ini, at-Tirmidzi berkata : "Hadits ini hasan." dihasankan oleh Ibnu Hajar dan al-Albani dalam Silsilatush Shahiihahnya. Walloohul muwaffiq[7]

C. BERKUMUR-KUMUR SETELAH MINUM SUSU DAN SEJENISNYA
1. Al Bukhari [8] meriwayatkan hadits dalam bab 'Man Madhmadha minas Sawiiq wa lam Tayawadhdha' (Berkumur-kumur dengan Makanan dari tepung dan Tidak Berwudhu)."
Dari Suwaid bin an-Nu'man radhiyallohu'anhu :
"Dia ikut serta keluar bersama Rasululloh radhiyallohu'anhu pada tahun penaklukkan Khaibar. Hingga ketika mereka sampai di ash-Shahba', daerah terdekat dengan Khaibar, beliau turun dan mengerjakan shalat 'Ashar. Setelah itu, beliau meminta bekal, namun yang bisa dihidangkan hanya tepung. Beliau pun menyuruh agar (tepung itu) dicampur dengan air. Sesudah itu, beliau makan dan kami pun ikut makan. Seusai makan beliau bersiap-siap untuk mengerjakan shalat Maghrib; beliau berkumur-kumur dan kami pun ikut berkumur-kumur. Setelah itu, beliau mengerjakan shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu."

Ibnu hajar menyebutkan dalam Fathul Baari : "Al-Bukhari menjadikan hadits ini sebagai dalil atas bolehnya melakukan dua kali shalat atau lebih dengan satu kali berwudhu' dan sunnahnya berkumur-kumur setelah makan."[9]

2. Al-Bukhari meriwayatkan [10] hadits dalam Bab "Hal Yumadhmidhu minal Laban (haruskah berkumur-kumur Setelah Minum Susu?)."
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhu, dia berkata bahwasanya Nabi Shalallohu'alaihi Wassalam meminum susu, kemudian berkumur-kumur, lalu bersabda :
"Sesungguhnya susu itu mengandung lemak."[11]

Ibnu hajar menyebutkan dalam Fathul Baari : "hadits itu menerangkan alasan Nabi Shalallohu'alaihi Wassalam berkumur-kumur setelah minum susu, sekaligus menunjukkan sunnahnya berkumur-kumur setelah makan/minum dari sesuatu yang mengandung minyak/lemak."[12]

Ibnu Muflih rahimahulloh menyebutkan dalam al-Aadaabusy Syar'iyyah : "Disunnahkan berkumur-kumur setelah minum susu." Dia juga berkata : "Sunnahnya berkumur-kumur dari makan/minum sesuatu yang mengandung minyak didasarkan pada alasan yang disampaikan Nabi Shalallohu'alaihi Wassalam."[13]

{Dinukil dari Kitab Menghidupkan Sunnah-Sunnah yang Terlupakan, Haifa binti Abdullah ar-Rasyid, Pustaka Imam Syafi'i}

----------------------------------------------------------------------------
Foot Note 

[1] HR Bukhari (5612-5619) dan Muslim (2029)

[2] HR Bukhari (5613)

[3] Fathul Baari (X/78)

[4] No 2009

[5] Al Ifshaah (I/61)

[6] Ahmad (1978/2569), at-Tirmidzi (3455), Ibnu Majah (3322), Abu Dawud (3730), Abu Dawud ath-Thayalisi (2723) dan an-Nasa-i dalam Amalul Yaum wal Lailah (hal 287)

[7] No 2320

[8] No 209

[9] I/374

[10] No 211

[11] HR Muslim (358)

[12] I/374

[13] III/211

Baca Selanjutnya ..

Ternyata "BUDAYA TITIP SALAM" itu SUNNAH lho..


Oleh. Abu Musa Al-Atsari

Budaya titip salam di Indonesia sudah sangat mendarah daging. Sering kita mendengar seseorang titip salam untuk temannya yang ada di negeri seberang, seorang sahabat titip salam untuk sahabatnya yang ada di luar kota, satu keluarga di kota titip salam untuk kerabatnya di desa, dst.

Budaya titip salam ini pun tidak hanya populer dikalangan remaja atau orang tua, bahkan tak jarang kita dapati bocah-bocah ikut meramaikannya. Hanya saja yang sangat disayangkan, banyak kalangan muda-mudi mengotori budaya mulia ini denga titip salam kepada lawan jenis yang belum halal baginya, baik berupa salam cinta atau salam perkenalan yang dapat berbuntut kepada hubungan yang diharamkan.

Titip Salam, Sunnahkah !?

Apabila kita menengok jauh ke zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ternyata budaya titip salam sudah ada pada masa beliau. Dan ternyata budaya ini adalah salah satu sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, salah satu budaya Islam yang mulia, yang secara turun temurun ramai duterapkan oleh kaum muslimin. Dan –alhamdulillah- ini merupakan salah satu sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang tumbuh subur di tengah-tengah kaum muslimin dunia.

Teks Hadits

Ada beberapa hadits yang menerangkan kepada kita budaya titip salam seperti ini. Berikut ini kami sebutkan dua diantaranya:

Hadist pertama,

Dari Aisyah radliyallahu’anha ia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah berkata: “Wahai Aisyah, ini ada Jibril, dia titip dalam untukmu.” Aisyah berkata: “Aku jawab, wa’alahissalam wa rohmatulloh (semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurahkan untuknya), engkau dapat melihat apa yang tidak kami lihat.” (HR. al-Bukhori, no.2217, Muslim, no. 2447)

Hadist kedua,

Dari Gholib rahimahullah ia berkata: Sesungguhnya kami pernah duduk-duduk di depan pintu rumah al-Hasan al-Basri rahimahullah, tiba-tiba seseorang datang (kepada kami) dan bercerita: Ayahku bercerita dari kakekku, ia (kakekku) berkata: Ayahku pernah mengutus untuk menemui Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lalu ia berkata: Datangilah beliau dan sampaikan salamku kepadanya. Ia (kakekku) berkata: Maka aku menemui beliau dan berkata: Ayahku titip salam untukmu. Maka beliau menjawab: “Wa ‘alayka wa’ala abikassalam” (semoga keselamatan tercurah kepadamu dan kepada ayahmu)” (Hadits hasan. Lihat: Misykat al-Mashabih, no. 4655, Shahih Abu Dawud, no. 5231).

Tata Cara Menjawab Titip Salam

Apabila ada teman, saudara, kerabat, keluarga atau siapa saja yang titip salam melalui seseorang kepada kita, maka kita wajib menjawabnya. Allah ta’ala berfirman:


“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)…..” (An-Nisa’ 86)

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Penghormatan di sini adalah ucapan salam, dan makna inilah yang dimaksudkan dalam ayat ini.”(Tafsir Fath-al-Qadir, surat an-Nisa’ ayat 86)

Imam al-Qurthubi rahimahullah bertutur: “Ulama sepakat bahwa memulai salam hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib” (Tafsir Fath al-Qadir, surat an-Nisa ayat 86)

Dari ayat di atas dapat dapat kita ketahui dua cara menjawab salam:

Pertama, sesuai dengan ucapan salam.

Kedua, menambah dengan beberapa kata yang disyariatkan.

Sebagai contoh: bila seorang mengucapkan, “Assalamu’alaykum”, maka minimal kita menjawabnya dengan “wa’alaykumussalam”, dan yang lebih baik ditambah dengan kata “warohmatulloh”, dan yang lebih baik lagi ditambah dengan kata “wa barokaatuh.”

Hanya saja, sunnah titip salam tidak sama dengan mengucapkan secara langsung, yang mana pada saat kita titip salam hanya berkata, “Titip salam untuk fulan” atau “Sampaikan salam buat fulan”, maka untuk menjawabnya kita pergunakan kata paling minimal, yaitu “wa’alaihissalam, dan semakin ditambah maka semakin baik”[1]. Ini poin pertama.

Poin kedua, lalu bagaimana dengan orang yang menyampaikan salam tersebut, apakah kita mendoakannya juga atau tidak? Maka dapat dijawab: ya, kita mendoakannya juga. Akan tetapi, ulama menjelaskan bahwa mendoakan orang yang menyampaikan salam tersebut hukumnya adalah sunnah (dianjurkan).

Ibnu hajar al-Asyqolani rahimahullah berkata: “Dan dianjurkan untuk mendoakan orang yang menyampaikan salam.” (Fath al-Bari, jilid 1, hlm. 41)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dan diantara tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah, apabila seseorang menyampaikan salam dari orang lain untuk beliau, maka beliau menjawab salam tersebut kepadanya dan kepada orang yang menyampaikannya.” (Zaad al-Ma’ad,jili2,hlm.427)

Hal ini dapat kita ketahui dari jawaban Aisyah radliyallahu’anha yang hanya menjawab salam untuk jibril ‘alaihissalam saja dan tidak ikut mendoakan beliau, dan beliaupun tidak mengingkarinya. Andaisaja hukumnya wajib, tentu saja Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sudah meluruskan ucapan Aisyah.

Berkenaan dengan tambahan doa untuk orang yang menyampaikan salam tersebut, maka telah ditunjukkan oleh hadits kedua di atas.

Petikan Faidah

Dari uraian ringkas di atas dapat kita sarikan bahwa:

1. Budaya titip salam merupakan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
2. Budaya titip salam tumbuh subur di tengah-tengah kaum muslimin, walhamdulillah.
3. Memulai salam hukumnya sunnah, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib.
4. Kewajiban menjawab salam sesuai dengan ucapan salam, jika ditambahi dengan beberapa kata yang disyariatkan, maka itu lebih baik lagi.
5. Dianjurkan ikut mendoakan orang yang menyampaikan salam.

Renungan

Telah kita terangkan di atas dan dapat kita saksikan bersama, bahwa fenomena budaya titip salam sangat menjamur sekali di Indonesia –insyaAllah juga diseluruh dunia-. Lantas, bagaimana jika kaum muslimin di seluruh penjuru dunia begitu semangat dalam menghidupkan sunnah Rasul shallallahu’alaihi wa sallam yang lain, sebagaimana mereka menghidupkan sunnah yang satu ini, pemandangan seperti apa sekiranya yang dapat kita saksikan?! Kita hanya bisa berdoa, ”Semoga Allah mewujudkannya”.

Sumber: Majalah Adz-Dzakiirah Al-Islamiyah Vol.7 No.7 Edisi 49-1430 H hlm.41-44

[1] Dalam riwayat lain, Aisyah radliyallahu’anha menjawab salam Jibril ‘alaihissalam –pada hadits pertama- dengan ucapan “wa’alaihissalam wa rohmatulloh wa barokaatuh” (Shahih al-Adab al-Mufrod, karya al-Albani, no.634/827)

DIarsipkan di bawah: Adab Islami
Baca Selanjutnya ..

Qailullah



Tidur siang pernah dianggap sebagai salah satu tanda kemalasan. Islam menganggapnya sebagai suatu kebaikan asalkan seseorang itu tidak berlebih-lebihan dengannya.

Di dalam kitab 'Misykatul Masabih' disebutkan tentang salah satu amalan sunnah yang pernah dilakukan oleh Nabi :
"Tidur yang sedikit di waktu tengah hari (qailulah) tidaklah salah. Rasulullah SallAllahu Alaihi wasallam ada melakukannya."

Imam Al Ghazali di dalam kitab 'Ihya Ulumuddin' telah berkata :
"Hendaklah seseorang tidak meninggalkan ibadah di malam hari sebagaimana sahur membantu puasa di siang hari. Sebaik-baiknya ialah bangun sebelum tergelincir matahari untuk shalat zhuhur."

Islam mempunyai pandangan tertentu tentang tidur tengah hari . Ia dianggap sebagai sunnah dan bukan sebagai satu yang salah . Tidurnya hanya sekejap. Tujuannya adalah untuk kesegaran tubuh badan agar dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan amal dan ibadah yang berkualitas.

Dewasa ini, berlandaskan kajian-kajian saintifik, tidur sekejap di waktu siang (day napping), terutama pada waktu tengah hari, dapat untuk meningkatkan tenaga, tumpuan dan akhirnya meningkatkan produktivitas para pekerja.

Baru-baru ini satu kajian 25 tahun tentang masalah tidur di negara-negara industri dan pasca industri telah mendapati bahwa 92.5% pekerja-pekerja yang berkesempatan tidur di waktu tengah hari, mempunyai daya kreativitas yang lebih tinggi. Daya kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalah juga meningkat. Semua ini pastinya meningkatkan produktivitas.
(Napping News : 'Scientific Proof Confirms : Napping Enhances Worker Productivity,' from eFuse)

Waktu tengah hari merupakan waktu yang paling sesuai untuk tidur sekejap karena sistem badan kita memang bersedia untuk memanfaatkan fase tidur pada waktu itu. Fase ini disebut sebagai 'a mid afternoon quiescent phase' atau 'a secondary sleep gate'.

Di antara tokoh-tokoh yang menggalakkan tidur tengahh ari ini adalah Dr.William A.Anthony, Ph.D. dan Camille W.Anthony, pengarang buku 'The Art of Napping at Work'. Demikian juga yang disebutkan oleh David F. Dinges dan Roger J. Broughton di dalam buku mereka'Sleep and Alertness: Chronobiological, Behavior and Medical Aspects of Napping'.

Dr. James Maas, pakar tidur dari Cornell University juga telah merumuskan bahwa tidur di tengah hari sekedar 15-20 menit sudah mencukupi untuk mengembalikan tenaga dan menjaga kesehatan. Seorang pengkaji yang lain, Donald Greeley, telah mengatakan bahwa tidur tengah hari adalah bermanfaat selama tidak melebihi satu jam.
(Gail Benchener: 'Parents and Sleep Deprivation,' Family.com)


Sunnah tidur tengah hari yang diajarkan Nabi SallAllahu Alaihi Wasallam rupa-rupanya merupakan suatu yang amat saintifik lagi relevan pada masa kini.
Baca Selanjutnya ..

Jumat, 27 Juli 2012

Mengenal Kode Daur Ulang (Recycle) Plastik


Setiap jenis plastik memerlukan proses yang berbeda untuk dapat didaur ulang atau di-recycle menjadi bahan baku plastik kembali. Selanjutnya plastik yang telah didaur ulang dapat digunakan untuk memproduksi aneka produk berbahan plastik. Ada plastik yang mudah untuk didaur ulang, ada pula yang sulit didaur ulang. Kode simbol recycle (panah segitiga) yang dilengkapi dengan angka, yang terdapat dalam produk plastik seperti botol air mineral, menunjukkan tingkat kemudahan bahan plastik tersebut untuk didaur ulang. Kode nomor recycle tersebut mulai dari angka 1 sampai dengan 7. Nomor kode daur ulang yang kita kenal selama ini adalah hasil rancangan The Society of the Plastic Industry (SPI) pada tahun 1988, dengan tujuan untuk mempermudah konsumen serta industri daur ulang membedakan jenis-jenis plastik. Sekaligus kode ini pula diharapkan dapat membantu tugas industri daur ulang menjadi lebih efektif. Sekarang mari kita bahas satu persatu nomor kode daur ulang tersebut. Nomor 1 menunjukkan plastik yang paling mudah dan umum untuk didaur ulang, yaitu plastik yang terbuat dari polyethylene terephthalate (PETE). Sebagai contohnya adalah botol bekas kemasan air mineral, minuman bersoda, kemasan obat-obatan, dan bekas kemasan produk konsumen lainnya. PETE yang telah didaur ulang kemudian dibuat menjadi jas hujan, sleeping bag, jaket, karung plastik, tali, bemper mobil, sisir, pita kaset, furnitur dan tentu menjadi botol kemasan lagi. Plastik dengan label nomor 2 adalah untuk high density polyethylene (HDPE), yang biasa digunakan sebagai botol deterjen, susu, sampo dan minyak pelumas motor. Plastik dengan label recyle 2 biasanya didaur ulang menjadi mainan, pipa dan tali. Plastik dengan label nomor 3 adalah untuk polyvinyl chloride (PVC), yang banyak digunakan untuk pembuatan pipa PVC, gorden shower kamar mandi, selang untuk kebutuhan medis dan dashboard vinyl. Label nomor 4 adalah untuk low density polyethylene (LDPE), yang biasa digunakan untuk pembuatan kantong plastik. Label nomor 5 adalah untuk polypropylene (PP), digunakan pada Tupperware, dll. Sedangkan plastik dengan label nomor 6 adalah untuk plastik berbahan polystyrene (Styrofoam), yang biasanya digunakan sebagai wadah makanan atau minuman sekali pakai, tempat daging di supermarket dan bahan insulasi. Styrofoam banyak diterima karena dapat didaur ulang dengan mudah dan dapat dijadikan berbagai aneka barang, termasuk diantaranya pita kaset dan bahan insulasi busa. Yang terakhir adalah plastik dengan label recycle nomor 7. Plastik yang termasuk ke dalam golongan ini adalah plastik yang paling sulit untuk didaur ulang. Plastik semacam ini dibuat dari kombinasi bahan-bahan plastik dari kelompok berlabel 1~6 atau bahan plastik yang diformulasikan secara khusus. Untuk mempermudah proses daur plastik serta mengurangi waktu yang diperlukan, maka pemilahan limbah plastik berdasarkan nomor label dan pemisahan dari limbah jenis lain sejak awal, mutlak diperlukan adanya. (artikel : serba serbi)
Baca Selanjutnya ..

Sekilas Tentang Deodoran

Istilah deodoran tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Zat kimia yang satu ini biasanya kita gunakan untuk menghilangkan bau tidak sedap dari tubuh kita. Deodoran atau dalam istilah asingnya deodorant atau deodorizer adalah suatu zat yang digunakan untuk menyerap atau mengurangi bau menyengat. Deodoran memiliki beberapa bentuk, ada yang cair ada pula yang padat. Untuk penggunaan kebersihan tubuh misalnya, deodoran digunakan pada bagian permukaan tubuh tertentu untuk menghilangkan bau tidak sedap. Karena kebanyakan bau tidak sedap dari tubuh disebabkan oleh aktifitas bakteri pada kulit, ke dalam deodoran biasanya ditambahkan pula zat antiseptik, yang berfungsi untuk membunuh bakteri penyebab bau. Batubara aktif dan silika gel menghilangkan bau dari udara dengan cara menyerapnya ke permukaan aktifnya. Ada pula beberapa deodoran yang menghilangkan bau dengan cara bereaksi dengan senyawa penyebab bau. Salah satu contohnya adalah klorofil. Glikol adalah deodoran sekaligus disinfektan yang biasanya disemprotkan saat digunakan untuk menyerap bau dari udara
Baca Selanjutnya ..

Selasa, 17 Juli 2012

Jus Ceri Tingkatkan Kualitas Tidur


Lupakan susu panas atau teh camomile jika Anda tak bisa tidur di malam hari, kini cobalah segelas jus ceri. Ilmuwan mengklaim konsumsi jus buah bervitamin c ini ternyata dapat meningkatkan kualitas dan durasi tidur dengan baik, meskipun mempunyai rasa yang asam. Dalam percobaan yang dilakukan ilmuwan dari Centre for Sleep Research, School of Life Sciences partisipan yang minum jus ceri tidak hanya tidur lebih lama, tetapi juga memiliki kualitas tidur yang baik. Ini terlihat ketika sekelompok sukarelawan tersebut diberi porsi 30ml jus ceri tart atau jus plasebo dua kali sehari selama tujuh hari dan dilengkapi dengan sensor untuk memonitor pola tidur mereka. Para peserta yang mengkonsumsi jus ceri terlihat mengalami peningkatan sekitar 25 menit di waktu tidur total dan peningkatan 6 persen dalam kualitas tidur mereka. "Temuan ini dapat bermanfaat bagi mereka yang sulit tidur karena pekerjaan, insomnia, atau jet lag. Ini karena jus ceri mengandung melatonin yang cukup untuk merespon tidur yang sehat" jelas salah satu peneliti Dr Jason Ellis.(fen) sumber:sehatnews.com (artikel : kesehatan)
Baca Selanjutnya ..

Minggu, 15 Juli 2012

Gagang Pintu WC di RS Jangan Dipegang, Dorong Pakai Badan

Kebiasaan orang membuka pintu WC adalah dengan memakai tangan. Khusus di rumah sakit, sebisa mungkin bukalah pintu toilet dengan cara mendorongnya pakai badan karena gagang pintu WC adalah sarang kuman yang sebaiknya tidak dipegang.

"Rumah sakit adalah hutan bagi para kuman. Gagang pintu WC termasuk yang paling banyak ditumbuhi kuman," kata Prof Dr Usman Chatib Warsa, PhD, SpMK, pakar mikroba dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam edukasi media di Laboratorium Mikrobiologi Klinis FKUI, Senin (19/12/2011).

Agar tidak tertular, Prof usman menganjurkan agar pasien atau siapapun tidak sembarangan memegang pintu WC saat berada di rumah sakit. Sebisa mungkin, gunakan badan untuk mendorongnya atau jika harus mengunakan tangan maka lapisilah dengan kertas tisu sekali pakai.

Kalaupun susah didorong pakai badan dan terpaksa memakai tangan tanpa dilapisi tisu, pastikan sesudahnya langsung mencuci tangan memakai alkohol yang tersedia di hampir setiap sudut rumah sakit. Alternatifnya, cucilah tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir.

Menurut Prof Usman, infeksi kuman yang terjadi di rumah sakit atau disebut juga infeksi nosokomial cenderung lebih susah diobati dibanding infeksi yang didapat di luar. Banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya karena kuman di rumah sakit banyak yang sudah bermutasi.

Dari pihak rumah sakit sendiri, sudah banyak sekali dilakukan penyesuaian prosedur untuk mengurangi risiko penularan infeksi nosokomial di rumah sakit. Salah satunya menurut Prof Usman adalah dengan tidak menggunakan 1 baskom untuk memandikan banyak pasien.

"Satu baskom untuk memandikan banyak pasien itu sekarang tidak boleh, sudah diganti pakai air mengalir. Walaupun kelihatannya masih bersih, kalau diteliti di laboratorium baskom bekas itu banyak sekali kumannya dan bisa menular saat dipakai untuk memandikan pasien berikutnya," kata Prof Usman.



sumber: detikhealth.com


(artikel : kesehatan)
Baca Selanjutnya ..

Berbagai Istilah Tas Palsu, Mulai dari KW 3 Sampai KW Ori

KW merupakan singkatan yang diambil dari kata 'kualitas' dengan lafal 'kwalitas'. Dari situlah kata KW itu muncul. KW itu sendiri biasanya didefinisikan sebagai suatu produk brand ternama yang bukan original atau asli dan dijual di pasaran. Produk tersebut sangat menyerupai produk aslinya, mulai dari detail desain, warna, ukuran dan juga corak. Perbedaan utama antara tas branded original dengan tas KW adalah dari segi bahan dan harga.

Salah satu produk brand ternama yang tidak asli yang banyak dijual yaitu tas. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa tas merupakan salah satu fashion item wajib untuk wanita. Tak sedikit pula tas keluaran brand high-end yang dijual dengan berbagai macam model, mulai dari yang terkesan unik, simpel, elegan bahkan yang sophisticated sekalipun.

Harga yang ditawarkan juga beragam dan terbilang mahal. Anda pun bisa menemukan begitu banyak tas branded berasal dari China, seperti Louis Vuitton, Prada, Hermes dan Chanel yang dijual KW dengan harga yang jauh lebih murah dari harga aslinya.

Namun ternyata tas-tas KW yang dijual tersebut, bukan hanya terdiri dari satu atau dua jenis KW saja. Ada berbagai jenis tas KW yang penamaannya tergantung penjualnya. Dari penelusuran wolipop berikut tujuh macam jenis tas KW paling umum:

1. KW 3
Tas branded yang biasanya dijual Rp 50 ribu di pasaran, masuk kategori tas KW 3. Tentunya tas tersebut merupakan tas tiruan dengan kualitas yang tidak bagus, baik dari segi bahan dan juga jahitan yang tidak rapih.

2. KW 2
Untuk tas KW 2 umumnya dijual dengan harga Rp 150 ribuan. Bahan yang digunakan bukan berupa kulit melainkan plastik dan juga bahan sintetis. Tas produk KW 2 ini kualitasnya berada di bawah tas KW 1.

3. KW 1
Standar harga tas yang ditawarkan untuk produk KW 1 yaitu mulai Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribuan. Bahan yang digunakan untuk tas KW 1 ini berupa kulit sintetis yang terbilang kasar.

4. KW Semi Super
Tas KW Semi Super terbuat dari 50% kulit yang juga masih dikombinasi dengan jenis bahan lainnya. Untuk harga tas jenis KW, biasanya dijual dengan harga tidak sampai sepersepuluh harga asli. Sebagai gambaran, tas Hermes asli model Garden Party dijual seharga Rp 24 juta di situs resmi Hermes. Untuk versi KW supernya, ditawarkan dengan harga Rp 1 juta.

5. KW Super Premium
Kualitas produk KW Super Premium hampir menyerupai produk aslinya. Harga yang dijual rata-rata Rp 1,5 juta hingga Rp 2 jutaan. Bisa lebih mahal tergantung model tas. Hampir 80% bahannya terbuat dari kulit. Namun, kulitnya tersebut masih terbilang kaku dan kasar.

6. KW Semi Original
Produk KW Semi Original bedanya tidak begitu jauh dengan KW Super Premium. Bahan kulit yang digunakan sekitar 80 - 90 persen. Namun, kulitnya masih terbilang kaku, sedikit lembut dan sedikit lentur. Harga yang dijual sekitar Rp 2,5 jutaan. Bisa juga lebih mahal tergantung model tas.

7. KW Original
Kualitas produk tas KW Original sangat menyerupai dengan produk aslinya. Harga yang diberikan berkisar Rp 3 jutaan ke atas. Bahannya sudah sekitar 90% terbuat dari kulit yang lembut dan lentur. Ada juga tas KW Original yang harganya di atas Rp 10 juta. Harga tersebut 1/10 nya dari harga tas asli, misalnya merek Hermes jenis Birkin yang harganya mencapai Rp 90 juta. Tas tersebut hanya dijual ke orang-orang tertentu yang sudah jadi pelanggan atau memesan khusus dan tidak dipajang di toko.


sumber: wolipop.detik.com

(artikel serba serbi)
Baca Selanjutnya ..

Rabu, 11 Juli 2012

Yang Menakjubkan Dari Seekor Nyamuk

Allah Subhanahu wa Ta’ala[ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘيُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26)
“Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26)
Setiap hari terdapat penemuan-penemuan baru seputar makhluk kecil nan lemah ini (nyamuk).  Baru-baru ini para ilmuwan menemukan bahwa nyamuk dapat mencari tahu di mana posisi seseorang dari hembusan nafas orang tersebut! Allah telah membekali nyamuk dangan peralatan teknologi yang dapat menangkap gas karbon yang dikeluarkan (dihembuskan) oleh manusia, menganalisis kuantitasnya (jumlahnya) dan mengetahu sumbernya.
Dan para ilmuwan menekankan bahwa serangga ini sangat sensitif terhadap gas karbon, bahkan dia memiliki kemampuan lebih unggul dari perangkat yang paling kompleks yang dibuat oleh manusia!
Maka apakah kita mengetahui pentingnya makhluk ini dan sejauh mana kompleksitasnya? Apakah tidak pantas kalau dia (nyamuk) disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya (al-Qur’an)? Jadi marilah kita dengarkan firman Al-Haq (Allah) Subhanahu wa Ta’ala  ketika membantah orang-orang kafir yang menyanggah penyebutan serangga ini dalam Al Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘيُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26)
“Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26)

Fakta Yang Menakjubkan Seputar Nyamuk:
Berikut ini beberapa fakta yang menakjubkan seputar nyamuk:
1. Ia adalah adalah betina
2. Ia Memiliki seratus mata di kepalanya
3. Di dalam mulutnya teradapat 48 gigi
4. Ia memiliki tiga jantung di dalam tubuhnya lengkap dengan bagian-bagiannya
5. Dia memiliki enam pisau di belalainya, dan masing-masing pisau tersebut memiliki fungsi yang berbeda
Informasi ini kepada Anda oleh:
6. Dia memiliki tiga sayap di masing-masing sisi
7. Dia dilengkapi dengan sistem pendeteksi panas yang bekerja seperti infra merah, dan tugasnya memantulkan (merubah) warna kulit manusia pada kegelapan menjadi warna ungu hingga dapat dilihat olehnya.
8. Dibekali dengan sistem bius (anestesi) lokal, yang membantunya ketika menusukkan jarum (sengatnya) ke kulit manusia tanpa mereka rasakan. Dan apa yang dirasakan oleh manusia seperti gigitan (sengatan) ketika digigit nyamuk, maka itu adalah akibat dari penghisapan darah
9. Dilengkapi dengan sisten penguji (tes) darah, maka ia tidak menyedot semua jenis darah.
10. Dilengkapi dengan perangkat untuk mencairkan darah, sehingga darah tersebut dapat mengalir di belalainya yang sangat kecil.
11. Dan yang paling aneh dari ini semua adalah bahwa ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa di atas punggung nyamuk hidup serangga yang sangat kecil, sampai-sampai ia tidak bisa dilihat kecuali dengan Mikroskop. Dan ini adalah fakta yang telah disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
: (إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا(….
“Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu….” (QS. Al-Baqarah: 26)
Subhaanallah!!

(Sumber: http://www.kaheel7.com/modules.php?name=News&file=article&sid=533 dan اعجاز علمي … غرائب البعوض di http://forum.mn66.com/t85813.html.)
Baca Selanjutnya ..