Rabu, 15 Agustus 2012

HIKMAH ILAHI DALAM HADITS LALAT


Dari Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallambersabda, “Apabila lalat masuk/ terjatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah (lalat itu) kemudian buanglah, karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya ada penyakit (racun) dan pada sayap yang lainnya ada penawarnya.” (HR. al-Bukhari).

Takhrij Hadits:
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/329), (4/71-72), ad-Darimi (2/99), Ibnu Majah (3505) dan Ahmad (2/398).
Penjelasan Hadits:
Hadits ini telah datang secara pasti dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan sebagian orang zaman dahulu dan sekarang telah mempermasalahkan hadits ini karena ketidaktahuan mereka. 
Imam al-Khathabi rahimahullah berkata, “Hadits ini telah diperbincangkan oleh orang-orang yang tidak memiliki bagian sama sekali dalam masalah ini, seraya mengatakan, ‘Bagaimana berkumpul antara obat dan penyakit dalam kedua sayap lalat? Dan bagaimana ia tahu hal itu dari dirinya sendiri?’ Ini adalah pertanyaan orang yang kurang ilmunya atau orang-orang yang pura-pura tidak tahu. Karena sesungguhnya dalam diri sebagian binatang terkumpul dua hal yang bertentangan, dan AllahSubhanahu waTa’ala telah mempersatukan keduanya dan memaksanya untuk bersatu, dan menjadikan hal itu sebagai kekuatan pada binatang tersebut. (Allah) yang memberikan insting (ilham) kepada lebah untuk membangun sarangnya yang unik tentunya mampu untuk memberikan ilham kepada lalat untuk mendahulukan satu sayap dan mengakhirkan sayap yang lain.”sampai di sini perkataan Imam al-Khathabi 
Pada zaman ini mereka yang mempermasalahkan hadits ini berkata, “Sesungguhnya hadits ini bertentangan dengan pokok-pokok penelitian ilmiah, bahwa lalat adalah sebab utama penularan penyakit, maka bagaimana mungkin pada lalat ada obat (penawar)nya? Mereka lupa bahwa sebagian besar masalah ilmiah yang mereka jadikan dalil, tidak lain hanyalah teori-teori semata, betapa banyak teori yang menyebutkan tentang sesuatu dan menganggap bahwa hal itu benar pada hari ini, kemudian setelah berselang waktu baik lama maupun cepat ternyata hal itu salah. Maka bagaimana mungkin teori-teori itu menjadi timbangan untuk menghukumi benar dan tidaknya nash-nash wahyu tersebut? Dan bagaimana mungkin orang yang kurang ilmunya dapat menghukumi salah dan benar terhadap ilmu yang datang dari Allah Subhanahu waTa’ala lewat lisan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam? 
Telah ditemukan sebuah penemuan baru dalam bidang kedokteran di dalam hadits ini dan majalah at-Tauhid di Mesir edisi 5 tahun 1397 H/1977M telah mempublikasikan hasil penelitian Dr.Amin Ridha (dosen bedah tulang di universitas Iskandariyah), yang menjelaskan bahwa dalam satu waktu yang bersamaan lalat membawa kuman-kuman yang menyebabkan penyakit, dan juga membawa bakteri “Faaj” yang melawan kuman-kuman tersebut. Bakteri “Faaj” adalah bakteri pemangsa atau penerkam kuman-kuman. 
Maka wajib bagi setiap muslim, untuk membenarkan setiap apa yang dibawa atau disampaikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik hal itu ditetapkan dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan modern dan penelitian atau pun tidak.
Faidah Hadits: 
1. Suci atau tidak najisnya lalat, baik ketika hidup maupun mati, dan bahwasanya suatu benda tidak menjadi najis apabila lalat hinggap dan mati di atasnya, baik benda itu padat maupun cair. 
2. Anjuran untuk mencelupkan/ menenggelamkan lalat yang sudah terjatuh masuk ke dalam minuman apabila benda itu adalah cair, adapun kalau benda itu padat, maka lalatnya dan daerah yang dihinggapi olehnya dibuang di sekitarnya. 
3. Sesungguhnya pada salah satu sayap lalat ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawar/ obatnya. Dan lalat, apabila dia terjatuh atau hinggap ke dalam minuman, dia akan mengangkat sayap yang terdapat penawar dan mencelupkan sayap yang terdapat penyakit. Maka termasuk hikmah Allah Subhanahu waTa’ala adalah Dia memerintahkan hambanya untuk mencelupkan lalat yang mati di dalam minuman, supaya obat/ penawar pada sayap yang satunya dapat menetralkan dan menawarkan penyakit yang ada pada sayap. Adapun menumpahkan atau membuang minuman tersebut merupakan bentuk penyia-nyiaan harta (tabdzir) yang dilarang AllahSubhanahu waTa’ala. Dan syari’at Islam bukan hanya berlaku untuk generasi (zaman) tertentu atau bangsa tertentu, karena kadang kala minuman memiliki nilai yang sangat berharga pada suatu zaman, tempat atau bangsa tertentu. 
4. Dalam hadits ini terdapat mukjizat ilmiah, dan ilmu pengetahuan modern telah menemukan penemuan baru yang menetapkan adanya kebenarannya secara ilmiah, bahwa ada penyakit berbahaya pada salah satu sayap lalat dan obatnya pada sayap yang lain. Allah Subhanahu waTa’ala memiliki rahasia-rahasia dan hikmah tertentu dalam menetapkan setiap syariat/ hukum. 
5. Para ulama mengqiyaskan lalat dengan binatang yang tidak memiiki darah yang mengalir dalam masalah kesuciannya.

Bantahan Terhadap Orang Yang Meragukan Hadits Lalat.
Sebagian orang mencela dan mengkritik hadits ini, bahkan celaan itu sampai kepada tingkat mencela sahabat Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu. Untuk menjawab celaan mereka terhadap hadits ini adalah sebagai berikut: 
1. Hadits di atas adalah salah satu hadits yang dipilih oleh Imam al-Bukhari dan beliau masukan ke dalam kitab Shahihnya karena keshahihan hadits tersebut. 
2. Hadits lalat ini tidak hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu. secara tersendiri, akan tetapi ia juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radiyallaahu ‘anhu dan Anas bin Malik radiyallaahu ‘anhu, sebagaimana yang terdapat dalam hadits dalam Musnad Imam Ahmad. 
3. Siapa mereka (para pencela hadits lalat) sehingga mencela salah seorang Sahabat dari Sahabat-sahabat shallallaahu ‘alaihi wasallam, bahkan sampai mencela orang yang paling banyak hafalan terhadap hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam (yaitu Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu) dan paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam. Orang yang Allah Subhanahu waTa’ala telah mendoakanya supaya dia mudah menghafal dan susah untuk lupa, orang yang telah mengahabiskan waktunya untuk hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, tidak dilupakan dengan pertanian dan tidak dilalaikan oleh perdagangn. Dia yang siang dan malam harinya hanya digunakan untuk mengikuti dan memperhatikan apa yang diucapkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia bergadang pada malam harinya untuk menghafal hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam supaya menancap kokoh di hatinya. 
4. Syaikh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’alimi berkata, “Para ilmuwan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui terhadap segala sesuatu, dan mereka masih secara terus-menerus melakukan penelitian-penelituian untuk menemukan penemuan-penemuan baru. Maka dengan apa mereka (pencela hadits Nabi) mengingkari dan menafikan kalau Allah memberikan pengetahuan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pengetahuan yang belum diketahui oleh ilmu pengetahuan modern. Dan Allah lah Pencipta, Pengatur alam semesta. Dia adalah pembuat syariat (hukum).” 
5. Para ilmuwan kedokteran modern menetapkan bahwa pada salah satu sayap lalat ada penyakit dan pada sayap yang lainnya ada obatnya. Dengan ini maka jelaslah sebuah kebenaran, dan tidak ada yang perkataan yang lebih benar dari perkataan Allah SubhanahuwaTa’ala.
(Oleh: Ust. Abu Yusuf Sujono)

Sumber: Diterjemahkan dari kitab Taudhih al-Ahkam syarah Bulughul Maram, hadits no.12, Syaikh Ali Bassam dan artikel tentang hadits lalat di www.islamweb.net . 
Baca Selanjutnya ..

Mudahnya Meraih Pahala Besar


Salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad adalah diberikan kemudahan dalam beramal shalih, tetapi memiliki balasan pahala yang besar di sisi Allah.
Bentuk amal shalih tersebut yaitu, sebagai berikut;
1. Membaca, “Subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim”
Nabi bersabda :
“Ada dua kalimat ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Allah (yaitu bacaan) subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim [Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Mahaagung].” (HR. al-Bukhari)
2. Berwudhu dengan Sempurna dan Berdoa
Nabi bersabda, “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, lalu mengucapkan :
 “Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya”, maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia sukai.” (HR. Muslim)
3. Shalat Sunnah Fajar
Rasulullah bersabda :
 “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya” (HR.Muslim)
4. Memperbanyak Sujud
Rasulullah bersabda :
“Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah karena tidaklah kamu bersujud kepada Allahsekali sujud, melainkan Allahmengangkatmu satu derajat dengannya dan menghapus darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim)
5. Menyaksikan Jenazah dan Menshalatinya
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menyaksikan jenazah sampai menshalatkannya, maka ia mendapatkan pahala satu qirath, dan barangsiapa menyaksikan jenazah sampai dikuburkan maka ia mendapat pahala dua qirath.” Dikatakan, apakah dua qirath itu? “beliau menjawab, seperti dua buah gunung yang besar.” (HR. al-Bukhari)
6. Puasa
Rasulullah bersabda, “Setiap perbuatan Anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus. Allah berfirman, Kecuali puasa, karena puasa itu milikKu, dan Aku yang memberi pahalanya. HambaKu meninggalkan nafsu syahwat dan makanannya demi Aku. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu rabbnya. Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi.” (HR.Muslim)
7. Umrah dan Haji
Rasulullah bersabda :
“Umrah satu dengan umrah berikutnya dapat menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabrur melainkan Surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
8. Membangun Masjid
“Barangsiapa membangun masjid –Bukair berkata, ‘aku mengira Utsman mengatakan,’ untuk mencari wajah Allah– maka Allah akan membangun yang serupa dengannya di Surga.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
9. Bertasbih 100x
Mush’ab bin Sa’id berkata, bapakku bercerita kepadaku, “Kami berada di sisi Rasulullah lalu beliau bersabda, ‘Tidak mampukah salah seorang di antara kalian mengerjakan seribu kebaikan dalam sehari?’
Seseorang yang hadir dalam majelis tersebut bertanya, ‘Bagaimana kami dapat mengerjakan seribu kebaikan dalam sehari ? Beliau menjawab :
‘Ia bertasbih seratus kali, maka ia akan mendapat seribu kebaikan dan dihapus darinya seribu kesalahan’” (HR.Muslim)
10. Bershalawat kepada Nabi Muhammad
Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR.Muslim)
11. Membaca al Qur’an
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (yakni: al-Qur’an-ed) maka dia mendapat satu pahala kebaikan. Dan setiap satu pahala itu dilipatkan menjadi 10x. Aku tidak mengatakan, Alif Laam Miim itu satu huruf. Tetapi, alif itu satu huruf, laam itu satu huruf, miim itu satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi)
12. Bersedekah dan Berinfaq
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menyedekahkan seharga kurma dari hasil pekerjaan yang baik,-dan Allah tidak menerima kecuali hal-hal yang baik-, sesungguhnya Allah menerima sedekah itu untuk pemiliknya sebagaimana seseorang di antara kalian memelihara anak kudanya, sampai sedekah itu bertambah menjadi seperti gunung.”(HR.al-Bukhari)
13. Memohon Mati Syahid
Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa memohon kepada Allah mati syahid dengan permohonan yang tulus, maka Allah akan menempatkannya dalam tingkatan orang-orang yang mati syahid meskipun dia mati di atas tempat tidur.” (HR. Muslim)
14. Berakhlaq Baik
Rasullullah bersabda, “Tidak ada sesuatu (yang pahalanya) lebih berat dalam timbangan amal seorang mukmin pada Hari kiamat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah benar-benar murka terhadap orang yang berkata keji dan kotor.”(HR. at-Tirmidzi)
15. Shalat Berjamaah di Masjid
Rasulullah bersabda, “(Pahala) seseorang Shalat berjamaah bertambah (lebih banyak) dua puluh lima derajat daripada shalat di rumah atau di pasar, karena seseorang di antara kalian jika berwudhu, lalu membaguskan wudhunya, dan datang ke masjid hanya untuk Shalat, maka tidaklah ia melangkah, melainkan Allah mengangkatnya satu derajat, dan menghapus darinya satu kesalahan sampai dia masuk masjid ; dan apabila dia telah masuk masjid , dia tetap dalam keadaan Shalat selama Shalat menahannya, para malaikat selalu mendoakannya selama dia masih berada di tempat Shalatnya dengan doa, “ Ya Allah, ampunilah dia, limpahkanlah rahmat kepadanya, selama dia tidak menyakiti (sesamanya), dan tidak berhadats.” (HR. al-Bukhari)
16. Bertasbih 10x, bertahmid 10x dan bertakbir 10x usai Shalat fardhu dan Bertasbih, bertahmid dan bertakbir 100x sebelum tidur
Rasulullah bersabda, “Ada dua hal, tidaklah seorang muslim menjaga keduanya melainkan ia masuk Surga.Ketahuilah, keduanya mudah, namun yang mengerjakannya sedikit, yaitu; membaca tasbih 10x, membaca tahmid 10x, dan membaca takbir 10x disetiap akhir Shalat”-Abdullah bin Amru mengatakan, ‘saya melihat Rasulullah menghitung dengan tangan beliau- Beliau bersabda, “itulah seratus lima puluh kali yang diucapkan lisan, namun nilainya seribu lima ratus dalam timbangan pahala. Setiap kali hendak tidur, engkau membaca tabih, takbir dan tahmid seratus kali. Maka seratus kali yang diucapkan lisan adalah seribu dalam timbangan. Siapakah di antara kalian yang melakukan 2500 keburukan dalam sehari semalam? para sahabat mengatakan, ‘mengapa seseorang tidak menjaga terus menerus? ‘Rasulullah menjawab, setan selalu mendatangi salah seorang di antara kalian ketika shalat seraya mengatakan kepadanya, ‘ingatlah hal ini, ingatlah hal itu, ‘sampai dia pergi sehingga seakan-akan dia tidak sedang mendirikan shalat. Setan juga mendatanginya ketika hendak tidur dan terus meninabobokkannya sampai tidur.” (HR.at-Tirmidzi)
17. Mengucapkan Laa Ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’in qadiir 100x 
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mengucapkan :
“Tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, tiada sekutu baginya, Dzat yang memiliki kerajaan dan segala pujian,dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, seratus kali dalam sehari, maka pahalanya setara dengan memerdekakan seratus budak, dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan dia mendapat perlindungan (Allah) dari setan yang mengganggunya mulai pagi sampai sore, dan tidak ada seorang hamba pun yang lebih utama dari sesuatu yang dia kerjakan, kecuali seseorang yang melakukan lebih banyak darinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Demikian 17 amalan yang bisa kami sebutkan. Masih banyak amalan lainnya yang belum bisa kami sebutkan di sini. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita sehingga dapat mengamalkan amalan-amalan tersebut. Aamiin.

[Sumber: Al-Ajru al-Kabir ‘ala al ‘Amal al-Yasir, Muhammad Khair Yusuf. Edisi Indonesia: Meraih Pahala Besar dengan Amalan Ringan, penerbit: Darul Haq, Jakarta]

Baca Selanjutnya ..

Mendulang Permata dari Lautan Taqwa

Taqwa adalah wasiat Allah -Azza wa Jalla- kepada generasi ummat-umat terdahulu dan kepada umat sekarang sampai akhir zaman. Ini tergambar dalam firman Allah -Azza wa Jalla- Sang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,

“Sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah”. (QS. An-Nisaa’: 131).

Al-Imam Al-Hafizh Abul Faroj Ibnu Rajab Al-Hanbaliy -rahimahullah- berkomentar saat menjelaskan sebuah hadits agung tentang taqwa, “Wasiat ini adalah wasiat yang agung lagi menyimpulkan seluruh hak-hak Allah, dan hak-hak para hamba, sebab hak Allah atas para hamba-Nya adalah mereka bertaqwa kepada-Nya dengan sebenarnya. Taqwa adalah wasiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan belakangan”. [Lihat Iqozhul Himam min Jami’ Al-Ulum wal Hikam (hal. 242), karya Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy]

Nah, apa itu taqwa?! Kita sering mendengar kata “TAQWA” di atas mimbar-mimbar dari lisan para dai-dai. Cuma banyak diantara kita yang tidak memahami kandungan faedah yang berkilau bagaikan intan pertama yang terpendam di dalam kata “taqwa”. Permata taqwa itu perlu kita gali dari tempatnya, sehingga kita mengenal arti taqwa, keutamaan taqwa, kedudukan taqwa, pilar-pilar taqwa, dan buah dari taqwa.

Banyak diantara kita yang sering melihat dan mendengar permata taqwa ini dari orang-orang (dai-dai) yang menjajakannya. Tapi ia tak mengerti permata taqwa yang hakiki dan sebenarnya, bahkan ia hanya mendengar dan melihat permata taqwa yang palsu, dan bukan sebenarnya. Sebab orang-orang yang menjajakan permata tak mengerti hakikat permata yang ditawarkankannya. Mungkin si dai itu sendiri tak mengerti permata yang asli dan palsu sehingga ia terus-menerus mengelabui manusia karena kejahilannya.

Pembaca yang budiman, disinilah pentingnya menggali makna dan rahasia taqwa agar kita mendulang keutamaan dari lautan taqwa. Para ahlul ilmi (ulama) telah mengutarakan pengertian dan makna taqwa. Nah, kali ini kita perlu menukil pengertian taqwa dari para ahlul ilmi :

Al-Imam Ar-Roghib Al-Ashfahani mendefenisikan, ”Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa , dengan cara meninggalkan apa yang dilarang, dan hal itu menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan”[Lihat Al-Mufrodat fi Ghoribil Qur’an(hal. 545)].

Al-Imam An-Nawawi mendefenisikan taqwa dengan, ”Mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.”[Lihat Tahrir Alfazh At-Tanbih (hal. 322)].

Al-Imam Ibnu Rojab-rahimahullah- berkata, "Taqwa seorang hamba kepada Allah, ia membuatpelindung antara dirinya dengan sesuatu yang ia takuti dari Robb-nya berupa kemarahan, murka, dan siksaan-Nya; pelindung itu akan menjaga dirinya dari hal tersebut. Sedang ia (pelindung itu) adalah melakukan ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi kedurhakaan kepada-Nya". [Lihat Jami'ul Ulum wal Hikam (1/158)]

Seorang tabi’in, Tholq bin Habib-rahimahullah- berkata, "Taqwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah karena mencari pahala di sisi Allah, dan engkau meninggalkan maksiat berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah, karena takut terhadap siksaan-Nya". [Lihat Ar-Risalah At-Tabukiyyah (hal.10)]

Dari beberapa buah makna yang diutarakan oleh para ahli ilmu tersebut, kita bisa memetik faedah bahwa taqwa memiliki beberapa pilar:

    Melakukan Ketaatan karena Mengharap Pahala di sisi Allah
    Meninggalkan dan Menjauhi Maksiat karena Takut kepada-Nya.
    Mengilmui Ketaatan yang akan Dikerjakan, dan Maksiat yang ia Jauhi.

Barangsiapa yang mengaku bertaqwa, namun ia tak melakukan ketaatan (seperti, sholat), maka ia tak mungkin akan mencapai puncak taqwa. Ini adalah peringatan bagi orang-orang sufi yang mengaku bertaqwa, walaupun tak lagi mengerjakan sholat!!

Demikian pun, siapa saja yang mengaku bisa bertaqwa dengan sempurna, sedang ia berlumur dosa. Demi Allah, ini hanyalah khayalan dari setan!! Seorang yang mau mencapai puncak taqwa harus meninggalkan maksiat. Jika ia terlanjur bermaksiat, maka ia segera memperbaiki dirinya dan meninggalkan maksiat serta bertobat kepada Allah dengan menyesali dosa maksiat tersebut, dan menggantinya dengan kebaikan dan amal sholeh.

Inilah yang digambarkan oleh Allah -Ta’ala- dalam firman-Nya,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”. (QS. Ali Imron: 133-136).

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada Mu’adz,

حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

"Bertaqwalah engkau dimanapun engkau berada; iringilah (tutupilah) kejelekan itu dengan kebaikan, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik, niscaya hal itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan itu". [ HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (1987). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (97)]

Allah -Ta’ala- menyifati orang-orang yang bertaqwa dengan mempergauli makhluk dengan kelakuan baik, seperti berinfaq, menahan amarah, memberi maaf kepada mereka. Jadi, Allah menggabungkan dua hal dengan menggambarkan mereka dengan sifat memberikan infaq, dan menahan beban gangguan orang lain. Sedang ini adalah puncak kebaikan akhlaq yang diwasiatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada Mu’adz. Kemudian Allah menyifati mereka bahwa mereka, apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak terus-menerus di atas dosa. Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang bertaqwa terkadang terjadi pada diri mereka dosa-dosa besar (yakni perbuatan keji), dan dosa-dosa kecil (yakni, menzholimi diri sendiri). Tapi, mereka tidak terus-menerus di atas dosa-dosa itu; mereka segera mengingat Allah setelah terjadinya hal itu, dan memohon ampunan kepada-Nya, serta bertobat kepada-Nya. Sedang tobat itu adalah tidak terus-menerusnya seseorang di atas maksiat. [Lihat Iqozhul Himam (hal. 250) karya Salim Al-Hilaliy]

Seorang yang mengingat Allah, kebesaran, kerasnya siksaan Allah akan melahirkan kesadaran untuk segera rujuk dan bertobat kepada Allah pada saat itu juga, memohon ampunan dari-Nya, dan tidak lagi terus di atas maksiat. [Lihat Al-Muntaqo min Jami’ Al-Ulum (hal. 250)]

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa godaan dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”. (QS. Al-A’raaf: 201).

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Al-Qurosyi -rahimahullah- berkata, “Allah -Ta’ala- mengabarkan tentang orang-orang bertaqwa dari kalangan hamba-hamba-Nya yang kepada-Nya dalam perkara yang Dia perintahkan, dan meninggalkan sesuatu yang Dia larang, bahwa bila mereka ditimpa godaan setan, maka mereka mengingat siksaan Allah, pahala yang besar, janji, dan ancaman-Nya. Kemudian mereka pun bertobat, sadar, berlindung kepada Allah, dan rujuk kepada Allah dalam waktu yang cepat”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (2/370) dengan sedikit tashorruf]

Ketika seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka hendaknya seorang melakukannya karena mencari pahala di sisi Allah -Azza wa Jalla-, bukan karena mencari pujian, jabatan, KURSI, dan perhatian manusia!! Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. (QS. Al-Anbiyaa’: 90).

Inilah tanda orang yang ikhlash dalam amalan ketaatannya; ia melakukan kebaikan karena mengharap pahala, dan meninggalkan maksiat karena cemas terhadap siksaan yang disediakan oleh Allah atas maksiat itu.

Keikhlasan dalam ketaatan dan ibadah adalah syarat diterimanya amal ibadah kita, karena syarat diterimanya pahala amal kita ada dua: IKHLASH dan ITTIBA’ (meneladani petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) sebagaimana yang dijelaskan oleh para ahlul ilmi [Lihat Tafsir Ibnu Katsir(1/156), dan Tahqiq Adab Al-Isyroh (hal.4)]

Selain itu, ketaatan yang kita akan lakukan, harus dilandasi fondasi ILMU SYAR’I, yakni ilmu wahyu yang tersimpan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana hal maksiat yang kita akan jauhi atau tinggalkan harus diilmui dan disadari bahwa itu adalah maksiat. Jadi, seorang yang mau bertaqwa haruslah mengamalkan ketaatan yang didasari oleh ilmu syar’iy, bukan hanya taqlid buta, karena boleh jadi -jika ia jahil-ia menyangka suatu perbuatan adalah amal ibadah dan ketaatan, eh ternyata amal buruk, seperti kondisi orang-orang yang melakukan DZIKIR JAMAAH dewasa ini, atau orang-orang yang membersihkan hatinya dengan lantunan musik!! Dikiranya amal sholeh, ternyata perbuatan baru yang tak ada tuntunannya dalam Islam!!!

Seorang yang meninggalkan maksiatpun harus atas dasar ilmu, karena boleh jadi ia meninggalkan suatu perkara ketaatan, karena ia mengiranya sebagai kemaksiatan, seperti sebagian orang, ada yang meninggalkan nikah karena alasan nikah itu adalah perkara yang menyibukkan dari mengingat Allah sehingga nikah itu seakan sebuah maksiat yang ditinggalkan. Padahal teladan kita, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganjurkan kita menikahi wanita. Andaikan nikah terlarang, maka beliau pasti tak akan menikah dan tidak menganjurkannya.

Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah menegur tiga sahabat yang tak mau nikah, sholat semalam suntuk, dan puasa terus-menerus,

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟! أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لأَخْشَاكُمْ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ, لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ, وَأُصَلِّيْ وَأَرْقُدُ, وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Kaliankah yang menyatakan begini dan begitu?! Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan paling bertaqwa kepada-Nya. Tapi, aku tetap berpuasa dan tidak puasa, sholat dan tidur, serta menikahi para wanita. Barangsiapa yang membenci sunnah (petunjuk)ku, maka ia bukan termasuk dari golonganku”. [HR. Al-Bukhoriy dalamKitab An-Nikah (9/104_ Fath), dan Muslim (1401)]

Disinilah nampak fungsi dan urgensi ilmu, sebab ia akan menuntun dan menjelaskan kepada kita antara yang baik dan yang buruk. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهًُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan, sedang ia mencari ilmu di dalamnya, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. [HR. Muslim dalam Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du'a (38)]

Seorang yang berilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga. Kenapa?! Karena dengan ilmunya, ia akan mengetahui sesuatu yang diperintahkan oleh Allah sehingga ia pun mengerjakannya; ia kan mengetahui juga perkara yang dilarang oleh Allah sehingga ia pun menjauhi dan meninggalkannya. Nah, inilah disebut orang “MUTTAQIN” (orang-orang yang bertaqwa). Semoga Allah menjadikan kita orang yang bertaqwa kepada-Nya, amin…

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 109 Tahun II. Penerbit : Pustaka ibnu Abbas
Baca Selanjutnya ..

Kekayaan dan Kemiskinan Hakiki


Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar
Harta benda merupakan bagian dari rizki yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas setiap hamba. Sebagian dilebihkan atas sebagian yang lain. Sehingga muncullah sebutan kaya dan miskin. Akan tetapi, siapakah sebenarnya orang yang disebut kaya atau miskin?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.” (HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata dalam penjelasannya terhadap hadits ini:
“Alhasil, orang yang disifati dengan ghina an-nafs (kekayaan jiwa) adalah orang yang qana’ah terhadap apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala rizkikan kepadanya. Dia tidak tamak untuk menumpuk-numpuk harta tanpa ada kebutuhan. Tidak pula dia meminta-minta kepada manusia dengan mendesak. Dia merasa ridha dengan apa yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, seakan-akan ia terus-menerus merasa cukup.
Sedangkan orang yang disifati dengan faqru an-nafs (kefakiran jiwa) adalah kebalikannya. Karena dia tidak qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya. Dia selalu rakus untuk menimbun kekayaan, dari arah mana saja. Kemudian, bila dia tidak mendapatkan apa yang ia cari, ia akan merasa sedih dan menyesal. Seakan-akan dia adalah orang yang tidak memiliki harta. Karena dia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, sehingga seakan-akan dia bukan orang yang kaya.” (Fathul Bari, 2/277)
Demikian pula, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan orang yang pada hakikatnya miskin, seperti dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ، وَلَكِنَّ الْمِسْكِينَ الَّذِي لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ وَلاَ يَقُوْمُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ
“Bukanlah orang yang miskin itu orang yang meminta-minta kepada manusia untuk diberi satu atau dua suap makanan, dan satu atau dua butir kurma. Akan tetapi orang yang miskin itu adalah orang yang tidak memiliki (rasa cukup dalam hatinya yang membuat dirinya tidak meminta-minta kepada orang lain) dan orang yang tidak menyembunyikan keadaannya, sehingga orang bersedekah kepadanya tanpa dia meminta-minta.” (HR. Al-Bukhari no. 1479 dan Muslim no. 1472 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata:
“Kecukupan dalam hati akan tumbuh dengan keridhaan terhadap qadha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berserah diri terhadap ketetapan-Nya, meyakini bahwa apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih baik dan kekal, sehingga membawa dirinya berpaling dari tamak dan rakus serta meminta-minta kepada manusia.” (Fathul Bari, 2/277)
Wallahu a’lam bish-shawab.
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=600

Baca Selanjutnya ..

Berawal Dari Sebuah Menghargai


Terkadang, mudah bagi kita untuk melihat bahwa sesuatu itu sangat berharga, setelah hal tersebut hilang dari pandangan atas tidak terjangkau lagi dengan tangan kita. Sesuatu yang kita peroleh itu, kadang kita lihat hanya sebagai beban atau sumber kekesalan serta kemarahan. Dan Ketika hal itu terjadi, kita menjadi orang paling menyesal dan banyak mengeluhkan tentang susahnya mencari sebuah ketenangan dan kebahagiaan.

Maka karena itulah Allah , mendidik kita para hambanya dengan sebuah hal yang bernama "Menghargai".

Ketika seseorang telah begitu cerdas memutuskan menjadi pribadi yang mudah menghargai maka tidak akan sulit baginya pula untuk bersyukur. Ya, karena penghargaan berarti juga bersyukur, yaitu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah didapatkannya. Tidak lupa, dia akan menggunakan serta memanfaatkan semua itu dengan sebaik mungkin dan di jalan yang diridhoi Allah, serta tidak menyia-nyiakannya begitu saja. Hal itu adalah cara nyata dari adanya sebuah penghargaan tersebut.

Penghargaan juga berarti merawat dan menjaga. Di dalam rumah tangga pun, sebuah rasa saling menghargai tetaplah sangat diperlukan. Bahkan kelangsungan sebuah kebahagiaan dalam rumah tangga  tak akan ada tanpa adanya rasa saling menghargai.

Tidak akan mungkin seorang istri mencaci maki suaminya, walaupun dalam keadaan semarah apapun dia, jika dalam hatinya terbetik rasa tetap ingin menghargai sang suami. Karena menghargai berarti menjaga dengan baik, dan memberikan dengan cara yang terbaik yang kita bisa untuk sesuatu tersebut. Pun demikian halnya dengan sang suami, rasa penghargaan akan menghalanginya dari berbuat yang menyakitkan dan atau melukai sang istri, walau hanya sekedar lewat sebuah kata. Hal ini persis sama dengan yang dicontohkan oleh manusia termulia, Nabi Muhammad SAW kepada para istri- istri beliau. Dan saking besarnya penghargaan serta kasih sayang beliau kepada keluarganya, sampai- sampai ketika beliau harus menegurpun, maka disampaikannya tetap dengan cara yang santun. Inilah sebuah bentuk perawatan kasih sayang dan kelembutan perhatian dan pengertian beliau terhadap wanita.

Penghargaan juga berarti tidak angkuh dan memandang lebih diri. Ketika kita belajar menghargai orang lain dan apapun yang datang atau ada di sekitar kita, maka dengan mudah kita akan mengkontrol ego serta besarnya pengagungan diri kita atas orang lain. Lihatlah tentang seseorang yang mengucapkan teguran dengan santun. Akan jelas berbeda rasanya dengan mereka yang melakukannya dengan kasar, walaupun dengan dalih melakukan kebaikan dan perbaikan. Hal ini karena orang yang menghargai, pun pasti terpikir bahwa siapa tahu mungkin suatu saat kesalahan itu akan menjadi miliknya dan bukan orang lain. Dan saat hal itu terjadi, maka dia pun juga ingin menerima perlakukan yang serupa baiknya dengan yang dilakukannya sekarang.

Maka benarlah jika orang yang menghargai akan mudah merasa bahagia. Ini karena orang lain bahkan benda mati sekalipun yang berada di sekitarnya juga akan dengan mudah memberikan ketenangan baginya.

Dan ibarat sebuah bola yang terpantul di dinding yang dari keras atau tidaknya lemparan kita, maka bola tersebut akhirnya akan kembali mengenai diri kita lagi. Orang yang menghargai akan mudah merasa bahagia, hal ini karena orang lain bahkan benda mati sekalipun yang berada di sekitarnya juga akan dengan mudah memberikan ketenangan baginya.
Sebaliknya, orang yang paling menyesal, adalah orang yang paling tidak menghargai atau belajar menghargai setiap apapun yang datang kepadanya walaupun hanya satu detik. Dan hal ini kebanyakan menjadi hak milik para pengeluh keadaan, karena yang mereka didikkan ke dalam dirinya hanya bisa pada sebatas keluhan, dan makian pada keadaan yang datang, dan bukan sebuah pemikiran positif dan harapan.

Maka berbahagialah bagi orang- orang yang di selamatkan dari musibah akibat kurangnya menghargai. Dan orang- orang ini adalah orang- orang yang santun dalam marah, anggun dalam menegur, membangun dalam mengkritik, serta selalu berpikir positif dan tetap bersyukur dalam titik nadir kesedihan dan kejatuhan diri.

(Syahidah)

Baca Selanjutnya ..

Senin, 13 Agustus 2012

Apa itu Israiliyat?

israiliyat

Apa Itu Israiliyat?

Berikut keterangan dalam kitab Ushul fi Tafsir:
Israiliyat adalah berita yang dinukil dari orang Bani Israil, baik yang beragama Yahudi atau Nasrani. Dan umumnya berasal dari masyarakat Yahudi.

Ditinjau dari statusnya, israiliyat dibagi menjadi 3:

Pertama, berita yang diakui kebenarannya dalam Islam. Berita israiliyat semacam ini boleh dibenarkan. Dan yang menjadi standar dalam hal ini adalah dalil Alquran atau hadis shahih.
Di antara contohnya adalah hadis dari Ibnu Mas’ud, bahwa ada seorang pendeta Yahudi yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengatakan,
“Wahai Muhammad, kami mendengar bahwa Allah menjadikan langit di satu jari dan semua makhluk juga di salah satu jari. Lalu Allah berfirman: “Sayalah Raja.”
Mendengat hal ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung tertawa, sehingga terlihat gigi geraham beliau, karena membenarkan ucapan si pendeta. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,
“Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar: 67)
(HR. Bukahri no. 4811 dan Muslim 2786)
Kedua, berita yang didustakan dalam Islam; berita semacam ini statusnya batil, dan wajib diingkari. Misal, Nabi Isa adalah putra Allah, atau seperti yang disebutkan dalam hadis Jabir berikut:

“Orang Yahudi mengatakan, jika seorang suami mendatangi istrinya dari belakang maka anaknya nanti juling.”
Kemudian Allah dustakan anggapan orang Yahudi ini dengan menurunkan firman-Nya:
“Istri kalian addalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian, dari mana saja yang kalian inginkan.” (QS. Al-Baqarah: 223)
(HR. Bukhari 4528 dan Muslim 1435)
Ketiga, berita yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan dalam Islam. Status berita semacam ini disikapi pertengahan (tawaquf), tidak boleh didustakan, karena bisa jadi itu benar, dan tidak dibenarkan, karena bisa jadi itu dusta.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Orang ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada kaum muslimin.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakannya, namun ucapkan: Kami beriman dengan kitab yang diturunkan kepada kami (alquran) dan kitab yang diturunkan kepada kalian.” (HR. Bukhari, 4485)
Hanya saja, dalam syariat kita, dibolehkan menceritakan berita Bani Israil, tanpa untuk tujuan diimani dan dibenarkan atau didustakan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat. Sampaikan kabar dari Bani Israil, dan tidak perlu merasa berat. Siapa yang berdusta atas namaku, hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari 3461)
Dan umumnya, kabar israiliyat ini tidak memiliki banyak manfaat penting dalam agama. Hanya sebatas cerita atau dongeng, seperti warna bulu anjing Ashabul Kahfi, siapa namanya, kisah tentang keluarga nabi-nabi masa silam, yang itu jika diketahui, tidak menambah amal kita.

Sikap Ulama Terkait Israiliyat

Berita israiliyat ini banyak kita jumpai di berbagai buku tafsir, sebagai pelengkap tafsir yang mereka sampaikan. Hanya saja, para ulama tidak sekata dalam menyikapi israiliyat. Ada ulama yang banyak membawakan berita israiliyat, dengan sanadnya; semacam Ibnu Jarir At Thabari. Ada juga ulama yang banyak membawakan berita ini, namun umumnya tidak menyebutkan sanadnya. Sebagaimana orang yang mencari kayu bakar di malam hari.
Di antara yang bisa dijadikan contoh adalah Al-Baghawi. Dalam Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam (13/304) mengatakan tentang Tafsir Al Baghawi: “Tafsir ini adalah ringkasan dari Tafsir At Tsa’labi, hanya saja dibuang bagian hadis-hadis palsu dan pemikiran-pemikiran menyimpang.” Beliau juga menjelaskan tentang Tafsir AtTsa’labi: “Dia bak pencari kayu bakar di malam hari, mengumpulkan semua yang dia dapatkan dalam buku tafsir, baik shahih, dhaif, maupun maudhu’.”
Ada ulama yang banyak menyebutkan israiliyat, kemudian beliau memberikan komentar tentang statusnya yang dhaif atau bahkan mengingkarinya. Metode ini yang sering dilakukan Al-Hafidz Ibnu Katsir. Bahkan ada juga ulama yang sangat keras dalam mengingkarinya dan tidak menyebutkannya dalam buku tafsirnya. Semacam Muhammad Rasyid Ridha.
Allahu a’lam


Apa itu Israiliyat?



Baca Selanjutnya ..

Minggu, 12 Agustus 2012

Berdakwah Lewat Pesan Singkat


Sarana komunikasi saat ini sangat mudah menjadi sarana meraih pahala. Dengan handphone mungil, hanya dengan mengirim short message kepada kerabat ataushohib dekat berisi nasehat yang menyentuh qolbu, kita pun bisa meraih pahala. Nasehat tersebut bisa jadi kita dapatkan dari bacaan buku atau seorang ustadz dan tinggal kita forward pada nomor kontak lainnya. Ini tips mudah untuk mendapatkan pahala lewat dakwah pesan singkat, walau mungkin kita bukan seorang da’i, hanya sekedar pem-forward pesan.

Keutamaan Berdakwah

Sekedar nasehat sederhana, seperti ajakan shalat, penjelasan keutamaan suatu amalan, ajakan mengerjakan puasa sunnah, penjelasan perihal hukum Islam, bahaya keyakinan menyimpang dan amalan tanpa dasar, itu bisa menjadi pesan dakwah sederhana. Walau sederhana, namun kita bisa meraih pahala dari orang yang mengikuti ajakan kita. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893). Bahkan pahala orang yang didakwahi tidak berkurang sebagaimana sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2674)
Tanda umat terbaik adalah gemar mengajak pada kebaikan (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (munkar) disertai beriman kepada Allah. Dalam suatu ayat disebutkan,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)
Para da’i juga adalah seorang yang memiliki perkataan yang baik dan mendapat sanjungan dari Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33). Yang dimaksud dalam ayat ini kata Ibnu Katsir rahimahullah bukanlah orang yang hanya sekedar berdakwah atau mengajak orang lain untuk baik. Namun mereka yang mengajak juga termasuk orang yang mendapat petunjuk, lalu mengajak mengajak yang lain. Ia mengajak kepada kebaikan, namun ia pun mengamalkannya. Begitu pula ia melarang dari suatu kemungkaran, ia pun menjauhinya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240)

Keutamaan lainnya, seorang da’i akan mendapat shalawat dari penduduk langit dan bumi. Dari Abu Umamah Al Bahiliradhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا, لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِي النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sesungguhnya para malaikat, serta semua penduduk langit-langit dan bumi, sampai semut-semut di sarangnya, mereka semua  bershalawat (mendoakan dan memintakan ampun) atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Modal Dakwah

Berdakwah tidak bisa hanya asal-asalan, ada modal yang mesti dimiliki. Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa ada tiga modal bagi setiap pengajak kebaikan dan pelarang kemungkaran. Modal tersebut adalah ilmu, lemah lembut dan sabar. Ilmu harus dimiliki di awal dakwah, lemah lembut harus ada di tengah-tengah memberi nasehat, dan sabar mesti ada di akhir karena barangkali ada gangguan atau hidayah belum kunjung datang pada orang yang kita dakwahi.
Tidak bisa seseorang berdakwah dengan asal-asalan tanpa didasari ilmu atau menyampaikan sesuatu yang tidak pernah dituntunkan oleh Islam (baca: bid’ah). Karena seringkali kami melihat sebagian orang menyebarkan amalan lewat SMS atau pesan BBM padahal amalan tersebut tidak diketahui dari hadits shahih ataukah dho’if (hadits lemah), hanya sekedar memforward, tanpa melakukan cek & ricek pada orang yang lebih berilmu. Ingat, dakwah itu termasuk ibadah. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,  “Barangsiapa yang beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka ia akan membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan.”

Begitu pula dakwah mesti dengan lemah lembut, tidak bisa langsung dengan kekerasan atau kata-kata kasar karena dakwah seperti ini pasti akan membuat orang lain sulit menerima. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petuah berharga,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia menyukai kelembutan dan Dia akan memberi kepada kelembutan yang tidak diberikan jika seseorang bersikap kasar.” (HR. Muslim no. 2593)

Setelah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran), haruslah ada sikap sabar terhadap setiap gangguan. Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap orang yang ingin melakukan amar ma’ruf nahi mungkar pastilah mendapat rintangan. Oleh karena itu, jika seseorang tidak bersabar, maka hanya akan membawa dampak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” Lukman pernah berkata pada anaknya,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ

“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

Ambil Andil dalam Dakwah

Asal memiliki tiga bekal di atas, maka seseorang sudah boleh berdakwah. Sekali lagi dakwah yang ia serukan adalah dengan didasari ilmu, disertai sikap lemah lembut dan miliki sifat sabar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari no. 3461).

Yang dimaksud dengan hadits ini adalah sampaikan kalimat yang bermanfaat, bisa jadi dari ayat Al Qur’an atau hadits (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 360). Asalkan yang disampaikan itu benar atau shahih, bukan ilmu atau amalan yang asal-asalan dan tanpa tuntunan (alias: bid’ah), maka sampaikanlah.

Sekarang Anda bisa memanfaatkan handphone Anda, BBM (Blackberry Messenger), atau jaringan sosial Anda di FB atau twitter untuk berdakwah dan mengisinya dengan hal-hal yang lebih manfaat bahkan bisa menuai pahala. Cobalah memanfaatkan sarana-sarana tadi melalui pesan singkat, memberi nasehat sederhana, ajakan untuk beramal atau penjelasan pada suatu hal yang mungkar. Nasehat yang ada saat ini bisa Anda peroleh dari buku bacaan, nasehat seorang ustadz atau dari tulisan di sebuah website yang Anda telusuri. Niscaya Anda pun bisa mendapatkan keutamaan amar ma’ruf nahi mungkar. Tentu saja dakwah ini dimulai dengan amalan pada diri sendiri, memperbaiki diri hari demi hari dan mencerminkan akhlak yang mulia, sehingga orang yang kita ajak bisa tertarik pada dakwah kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga,

إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْن الْخُلُقِ

“Sesungguhnya kalian tidak dapat menarik hati orang dengan harta kalian. Kalian hanya dapat membuat hati mereka tertarik dengan wajah berseri dan akhlak luhur kalian.” (HR. Al Bazzar dalam musnadnya dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya)

Ingatlah, tugas kita hanya menyampaikan sedangkan hidayah hanyalah datang dari Allah. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashshash: 56)

Wallahu waliyyut taufiq.

@ Ummul Hamam, Riyadh KSA
19 Dzulhijjah 1432 H

Source:

http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3601-berdakwah-lewat-pesan-singkat.html
Baca Selanjutnya ..